KerajaanIslam Banjar berdiri pada tahun 1520 di provinsi Kalimantan Selatan dibawah pimpinan Raden Samudra. Kemunculan kerajaan Islam Banjar berhubungan erat dengan runtuhnya Kerajaan Nagaradaha (Kerajaan Daha) yang saat itu menguasai daerah banjar. Dengan bantuan kerajaan Islam Demak, Kerajaan Islam Banjar dapat meruntuhkan kerajaan Daha.
Konon Sekar Sungsang seorang penganut Syiwa. la mendirikan candi dan lingga terbesar di Kalimantan Selatan. Candi yang didirikan itu bernama Candi Laras. Pengganti Sekar Sungsang adalah Maharaja Sukarama. Pada masa pemerintahannya, pergolakan berlangsung terus-menerus.
LegendaBatu Menangis - Kalimantan Barat. Pada zaman dahulu kala, di atas sebuah bukit kecil yang jauh dari pemukiman penduduk, di daerah Kalimantan Barat hiduplah seorang janda yang sangat miskin bersama seorang anak gadisnya. Anak gadis nya sangat cantik, bentuk tubuhnya sangat indah, rambutnya terurai mengikal sampai ke mata kaki.
Ceritalegenda ini terpusat pada salah seorang laki-laki bernama Aji Batara Agung Dewa Sakti, seorang dari keturunan Dewa yang memiliki wajah sangat tampan, sehat, dan cerdas. Ia tumbuh dan berkembang di lingkungan suku bangsa Tenggarong Kutai. Sebagai keturuna Dewa. Ia tidak boleh diperlakukan seperti halnya seorang manusia biasa.
KearifanLokal. Kearifan lokal adalah pengetahuan dasar yang diperoleh dari hidup yang seimbang dengan alam. Hal ini terkait dengan budaya di masyarakat yang diakumulasikan dan diteruskan. Kebiasaan ini bisa abstrak dan konkret, tetapi karakteristik yang penting adalah bahwa kearifan lokal berasal dari pengalaman atau kebenaran yang diperoleh
3 Cerita rakyat berkembang dalam masyarakat karena milik bersama. 4) Cerita rakyat memiliki kegunaan sebagai alat pendiidk, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam. 5) Cerita rakyat merupakan warisan kebudayaan. 6) Cerita rakyat merupakan cerita khayaalan, tetapi terkadang diambil dari kisah nyata serta legenda.
Ceritarakyat yang singkat dan menarik tersebut memiliki pesan moral untuk buah hati Bunda. Salah satu pesan moralnya adalah selalu meminta pertolongan kepada Allah. Oleh karena itu, hingga kini telaga yang ada di Kalimantan Selatan tersebut dinamai dengan Telaga Bidadari. Cerita rakyat di atas merupakan salah satu contoh dari kumpulan
QrME. Cerita Rakyat Kalimantan Selatan Terbaik akan kami posting di hari ini untuk melengkapi koleksi Cerita Rakyat Nusantara lainnya. Kalimantan Selatan adalah satu dari sekian propinsi di Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah. Disini hutan-hutan terhampar indah laksana permadani. Di tengah hutan tersebut hidup beraneka ragam tumbuhan dan hewan. Salah satu hewan yang sangat terkenal adalah burung punai. Menurut masyarakat setempat, asal muasal keberadaan burung punai di daerah ini sering dihubungkan dengan cerita rakyat Datu Pulut Asal Mula Burung Punai. Alur cerita ini mirip dengan cerita Mahligai Keloyang dan Putri Mambang Linau di Propinsi Riau. Dalam cerita tersebut dikisahkan bahwa seorang pemuda mendapati tujuh orang putri yang hendak mandi di telaga turun dari Kahyangan. Pada saat putri tersebut sedang asyik mandi, dengan hati-hati sang Pemuda mengambil salah satu selendang yang diletakkan di pinggir telaga. Setelah beberapa lama mandi, hari pun mulai senja. Saatnya ketujuh putri tersebut kembali ke Kahyangan. Namun ketika mereka ingin kembali, salah satu dari ketujuh putri tersebut tidak bisa terbang ke angkasa, karena selendangnya telah diambil oleh sang Pemuda. Akhirnya, putri yang malang itu kemudian ditinggalkan oleh keenam saudaranya di bumi sendirian. Pemuda yang telah mengambil selendangnya itu kemudian menemui sang Putri dan mengajaknya untuk menikah. Di akhir cerita, mereka berpisah setelah dikaruniai anak. Sang Putri kembali ke tempat asalnya di Kahyangan meninggalkan suami dan anaknya di bumi. Masyarakat pendukung cerita tersebut, biasanya mengaitkannya dengan asal mula terjadinya sesuatu. Seperti dalam cerita Mahligai Keloyang, yang telah melahirkan nama Kecamatan Kelayang; dan cerita Putri Mambang Linau, yang telah melahirkan nama tarian Olang-olang di Riau. Demikian pula cerita Dutu Pulut yang telah melahirkan sebuah nama burung yang dikenal dengan burung punai. Kata “punai” diambil dari nama sebuah pohon di daerah Kalimantan Selatan yang disebut pohon berunai. Sesuai dengan pesan sang Bidadari, setiap kali anaknya menangis, Datu Pulut harus membuat ayunan untuk anaknya di atas pohon berunai. Pada saat itulah sang Bidadari yang dikawal keenam saudaranya datang menyusui anaknya. Tapi dengan syarat, Datu Pulut tidak boleh mendekat, apalagi menyentuhnya. Namun, Datu Pulut melanggar larangan itu. Ketika istrinya sedang menyusui anaknya, Datu Pulut mendekat dan menyentuh sang Bidadari. Ketika itu pula, tiba-tiba sang Bidadari dan keenam saudaranya menjelma menjadi burung punai. Kenapa Datu Pulut melanggar larangan itu? Untuk mengetahui jawabannya, ikuti kisahnya dalam cerita Datu Pulut Asal Mula Burung Punai berikut ini. Cerita Rakyat Kalimantan Selatan Terbaik Asal Mula Burung Punai Konon, di daerah Kalimantan Selatan, tersebutlah seorang pemuda pengembara yang bernama Andin. Ia adalah anak sebatang kara, tidak punya Abah dan Uma. Ia juga tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Ia mengembara dari satu desa ke desa lain, menjelajahi hutan belantara dan melewati berbagai negeri seorang diri. Suatu hari, tibalah Andin di Desa Pakan Dalam yang berawa-rawa dan bersungai. Di permukaan rawa-rawa itu terlihat pemandangan yang sangat indah. Beraneka ragam bunga yang tumbuh mekar dan harum, sehingga burung yang senang mengunjungi daerah itu. Karena banyak burung yang cantik dan merdu di desa itu, banyak penduduk yang bekerja mamulut burung. Melihat kehidupan masyarakat di daerah itu makmur, maka Andin pun memutuskan menetap di sana. “Ah, lebih baik aku menetap di sini saja. Aku tidak akan kesulitan menghidupi diriku,” gumam Andin. Meskipun tidak memiliki lahan untuk bertani atau beternak hewan, ia masih memiliki sebuah harapan yaitu mamulut burung. Dari situlah ia bisa menghidupi dirinya. cerita rakyat kalimantan selatan terpopuler Hari dan bulan telah berganti. Tak terasa, sudah satu tahun Andin menetap di Pakan Dalam. Penduduk setempat sangat menyukai Andin, karena perangainya baik dan santun. Setiap hari Andin pergi mamulut burung. Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat, dan kembali setelah hari mulai senja. Karena setiap hari pergi mamulut burung, penduduk desa memanggil Andin dengan sebutan Andin Pulut. Karena keahlian Andin mamulut burung tidak ada yang menandingi di desa itu, maka sebagian besar penduduk memanggilnya Datu Pulut. Artinya, orang yang sangat pandai dan berpengalaman mamulut burung. Seperti biasa, pagi itu Datu Pulut bersiap-siap berangkat mamulut. Tak berapa lama kemudian, ia sudah terlihat di atas jukungnya menuju hilir. Ia terus mengayuh jukungnya menyusuri sungai. Setelah menemukan tempat yang cocok, ia pun turun dari jukungnya. Lalu, ia memasang pulut di sejumlah pohon di pinggir sungai. Setelah itu, ia kembali ke jukungnya menunggu pulutnya terkena burung sambil tiduran . Tengah asyik tiduran, tiba-tiba hujan turun. Ia pun cepat-cepat naik ke daratan. Tak jauh dari tempatnya memasang pulut, ditemuÂkannya beberapa pohon yang besar lagi rindang. Di bawah pepohonan itu terdapat sebuah telaga yang cukup luas dan berair jernih. Ia sangat senang menemukan tempat berteduh yang nyaman. “Aha…, aku dapat berteduh di sini sambil menunggu hujan reda,” gumam Datu Pulut. Beberapa saat kemudian, hujan pun mulai reda. Datu Pulut kemudian manukui jebakan pulutnya. Namun, saat akan beranjak dari tempatnya, tiba-tiba ia mendengar suara perempuan yang sedang bergembira. Tanpa pikir panjang, ia cepat-cepat bersemÂbunyi di balik pohon seraya mengintip. Kini suara itu semakin jelas dan semakin dekat. Tiba-tiba ia tersentak ketika melihat tujuh bidadari melayang-layang turun dari langit menuju telaga. Ketujuh bidadari tersebut mengenakan selendang berwarna pelangi. Dari ketujuh bidadari tersebut, bidadari yang berselendang warna jinggalah yang paling cantik. Datu Pulut sangat terpesona melihatnya. “Aduhai, cantik sekali bidadari yang berselendang jingga itu,” gumam Datu Pulut takjub. Para bidadari itu turun dan meletakkan selendangnya di atas bebatuan. Mereka mandi sambil bercengkerama dan bersuka ria. Pada saat itulah, Datu Pulut memanfaatkan kesempatan. Dengan hati-hati, ia mengambil selendang yang berwarna jingga itu, lalu dimasukkannya ke dalam butahnya. Kemudian, ia cepat-cepat kembali bersembunyi di balik pohon. Tak terasa, hari mulai senja. Saatnya bidadari tersebut kembali ke Kahyangan. Satu per satu mereka mengenakan kembali selendangnya. Tetapi bidadari yang tercantik itu tidak menemukan selendangnya. Saudara-saudaranya turut membantu mencari ke sana ke mari. Namun tak kunjung mereka temukan. Hari pun semakin senja. Keenam bidadari tersebut terpaksa meninggalkan bidadari cantik yang malang itu seorang diri. Bidadari yang cantik itu sangat sedih ditinggal oleh saudara-saudaranya. “Abah, Uma, tolong ananda. Ananda takut sendirian di bumi ini. Kenapa nasib ananda begini malangnya?” Bidadari itu terus menangis meratapi nasibnya. Datu Pulut merasa iba melihat bidadari itu. Ia pun segera keluar dari tempatnya bersembunyi, lalu menghampirinya. “Apa yang telah terjadi, Adingku? Mengapa berada di tepi telaga seorang diri?” sapa Datu Pulut pura-pura tidak tahu kejadian yang menimpa sang Bidadari. “Selendang saya hilang, tuan! Tahukah tuan dimana selendang saya?” bertanya pula bidadari itu. Datu Pulut tidak menjawab pertanyaan itu, ia tidak ingin sang Bidadari kembali ke Kahyangan. Lalu diajaknya sang Bidadari pulang bersamanya. Setelah sampai di gubuk reyotnya, Datu Pulut bercerita kepada sang Bidadari bahwa ia belum berkeluarga dan berniat untuk memperistrinya. “Wahai, Adingku! Bersediakah kamu menjadi istriku?” tanya Datu Pulut kepada bidadari. Mendengar pertanyaan itu, sang Bidadari pun bersedia menikah dengan Datu Pulut, karena ia tidak mungkin kembali ke Kahyangan tanpa selendangnya. Setelah itu, mereka hidup bahagia dan saling menyayangi. Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik jelita. Maka semakin lengkaplah kebahagiaan keluarga itu. Datu Pulut semakin rajin dan bersemangat bekerja. Ia sering pergi mamulut hingga petang. Sementara, bidadari menyiapkan berbagai masakan yang lezat untuk suaminya. Pada suatu hari, sang Bidadari hendak menanak nasi. Namun, persediaan beras di padaringan habis. “Tidak biasanya Kaka lupa mengisi beras di padaringan. Ini kok habis?” kata sang Bidadari dalam hati. Kemudian, ia masuk ke dalam kindai untuk mengambil padi. Sejak menikah dengan Datu Pulut, ia tidak pernah mengambil padi di tempat itu. Baru mengambil padi beberapa takaran, sang Bidadari terpana melihat sebuah butah tergeletak di sela-sela timbunan biji padi. Ia penasaran ingin mengetahui isi butah itu. Maka dibukanya tutup butah itu. Tanpa diduga-duga, dilihatnya selendang kahyangannya. Kini, sang Bidadari tersadar, ternyata suaminyalah yang telah mengambil seledangnya beberapa tahun yang lalu. Ia pun Kahimungan, dan segera menyimpan selendang itu baik-baik. Menjelang senja, Datu Pulut pun datang membawa hasil pulutannya. Sang Bidadari menyambutnya seperti biasanya, sehingga Datu Pulut tidak curiga sedikit pun, jika istrinya telah menemukan selendang kahyangannya. Malam semakin larut, Datu Pulut sudah tertidur pulas di samping anaknya, karena letih mamulut sepanjang hari. Sang Bidadari masih belum juga dapat memejamkan matanya. Pikirannya melayang-layang, teringat orang tua dan saudara-saudaranya di negeri Kahyangan. Perasaannya bercampur baur, sedih dan bimbang. Ia ingin kembali ke negeri asalnya, tetapi tidak tega meninggalkan suami dan anaknya. “Oh… Abah, Umah! Aku sangat merindukan kalian. Tapi bagaimana dengan nasib anak dan suamiku jika aku meninggalkan mereka?” keluh sang Bidadari kebingungan. Namun, sang Bidadari harus mengambil keputusan antara kembali ke kahyangan atau tinggal di bumi. Akhirnya, setelah dipikir-pikir ia pun memutuskan meninggalkan bumi. “Aku harus kembali ke Kahyangan,” tegas sang Bidadari dalam hati. Keesokan harinya, Datu Pulut pulang dari mamalut. Ia tersentak kaget ketika melihat istrinya sudah berpakaian lengkap dengan selendang warna jingganya sambil mendekap anak mereka. Belum sempat Datu Pulut berkata-kata, sang Bidadari langsung berpesan kepadanya, “Maafkan Ading, Kaka! Ading harus kembali ke Kahyangan. Peliharalah putri kita baik-baik. Jika ia menangis, buatkanlah ayunan di pohon berunai. Saat itu Ading akan datang menyusuinya, dengan syarat Kaka tidak boleh mendekat.” Mendengar pesan istrinya, Datu Pulut pun berjanji untuk selalu mengingat pesan itu. Sesaat kemudian, tiba-tiba sang Bidadari terbang melayang ke angkasa meninggalkan suami dan putri tercintanya. Sejak saat itu, jika putrinya menangis, Datu Pulut segera membuatkan ayunan di pohon berunai yang tak jauh gubuknya. Tak lama setelah itu, datanglah istrinya untuk menyusui anaknya dengan dikawal oleh saudara-saudaranya. Datu Pulut hanya bisa melihat dari arah jauh dengan penuh kesabaran. Meskipun sebenarnya ia sangat merindukan istrinya, perasaan itu terpaksa ia pendam dalam hati. Tanpa terasa, beberapa bulan telah berlalu. Setiap manusia memiliki batas kesabaran. Datu Pulut tidak bisa lagi menahan rasa rindunya kepada istrinya. Pada suatu hari, saat istrinya sedang menyusui anaknya, secara diam-diam Datu Pulut mendekat. Rupanya ia lupa pada pesan istrinya. Pada saat ia akan menyentuh istrinya, tiba-tiba terjadi keajaiban yang sangat luar biasa. Sang Bidadari dan saudara-saudaranya berubah menjadi tujuh ekor burung punai. Ketujuh burung itu pun terbang ke alam bebas dan meninggalkan Datu Pulut beserta putrinya. Datu Pulut hanya mampu menyesali dirinya. Namun apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur. Setiap kali putrinya menangis, ia membawanya ke bawah pohon berunai. Namun, istrinya yang telah menjadi burung punai tak pernah datang lagi. ——– Menurut kisah diatas burung punai yang ada di daerah Kalimantan Selatan merupakan penjelmaan dari tujuh bidadari cantik yang jelita. Konon, sampai saat ini sebagian penduduk di Desa Pakan Dalam, Kecamatan Daha Utara, tidak mau memakan burung punai, sebab mereka menganggap burung punai itu penjelmaan bidadari. Adapun hikmah yang dapat diambil untuk dijadikan sebagai suri tauladan dalam cerita rakya dari Kalimantan Selatan ini adalah bahwa kita harus memiliki perangai yang baik dan santun, dan suka bekerja keras. Sifat-sifat ini tercermin pada sifat Datu Pulut. Ia memiliki sifat baik hati dan sopan santun, sehingga ia disenangi oleh seluruh masyarakat yang ada di sekitarnya. Sifat suka bekerja keras juga tercermin pada sifat Datu Pulut, ia sangat rajin mamulut burung. Pagi-pagi sekali, ia sudah berangkat mamulut dan baru pulang ketika hari menjelang senja. Bekerja keras memang menjadi kewajiban dan tanggung jawab setiap orang. Orang yang suka bekerja keras hidupnya akan makmur. Orang tua-tua Melayu pernah mengatakan bahwa kejayaan orang Melayu ditentukan oleh ketekunan dan kesungguhan mereka dalam bekerja. Dalam ungkapan dikatakan, “kalau Melayu hendak berjaya, bekerja dengan sesungguhnya,” “siapa rajin, hidup terjamin,” atau “siapa tekun berdaun rimbun.” Bagi orang Melayu, bekerja mencari nafkah sangat diutamakan dan dijadikan tolok ukur dalam menilai atau melihat kepribadian seseorang. Siapa yang mau bekerja keras, rajin, dan bersungguh hati dianggap sebagai teladan dan bertanggung jawab, serta dihormati oleh anggota masyarakatnya. Di dalam tunjuk ajar Melayu, keutamaan bekerja keras, rajin, dan tabah cukup banyak disebutkan. Tenas Effendy dalam bukunya Tunjuk Ajar Melayu juga banyak menyebutkannya, di antaranya apa tanda Melayu jati, bekerja keras di mana pun jadi apa tanda Melayu bertuah, rajin bekerja mencari nafkah apa tanda Melayu terpilih, bekerja keras mencari bekalan Dalam buku itu, Tenas Effendy juga melantunkannya dalam bentuk syiar, di antaranya wahai ananda dengarkan amanah, bekerja keras janganlah lengah supayat hidupmu beroleh berkah dunia akhirat mendapat faedah wahai ananda cahaya mata, rajin dan tekun dalam bekerja penat dan letih usah dikira supaya kelak hidupmu sejahtera Tenas Effendy juga melantunkannya dalam beberapa untaian pantun, di antaranya banyak raja banyak rakyatnya rakyat melimpah serata negeri elok kerja banyak manfaatnya manfaat menjadi tuahnya diri apa tanda parang berbaja kalau diasah bajanya nampak apa kelebihan orang bekerja ke tengah ke tepi tiada tercampak Kamus kecil Mamulut menjerat burung dengan getah Jukung sampan Manukui melihat, memeriksa jerat Butah keranjang kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kulit bambu yang dianyam Abah ayah Uma ibu Ading adik, panggilan suami untuk istrinya Padaringan tempat untuk menyimpan beras Kindai lumbung tempat menyimpan padi. Kaka kakak; panggilan istri untuk suaminya * * * Sumber dari cerita rakyat kalimantan selatan terpopuler adalah Isi cerita diringkas dari Rohliansyah, Pahmi. 2006. Datu Pulut Asal Mula Burung Punai. Yogyakarta AdiCita Karya Nusa Tenas Effendy. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.
Cerita rakyat Nusantara itu ada beragam, lho. Dari beberapa daerah punya kisah dan sejarahnya masing-masing. Di Kalimantan Selatan, ada cerita sejarah Datu Pujung. Kalau ingin membaca ceritanya, langsung saja cek ulasannya di artikel ini. Indonesia memang kaya akan cerita rakyat Nusantara yang menarik tuk disimak. Dari Kalimantan Selatan, ada cerita rakyat Datu Pujung yang juga merupakan kisah sejarah Pulau Kaget. Kamu sudah pernah mendengar kisahnya?Secara singkat, cerita rakyat ini mengisahkan tentang seorang pria tua yang arif dan bijaksana bernama Pujung dan kerap dipanggil Datu Pujung. Tak ada satu orang pun yang tahun dari mana asal pria itu. Rupanya, ia memiliki kesaktian yang bisa menyelamatkan negeri dari mara apakah kesaktian pria yang bijak ini? Kalau penasaran dengan kisahnya, tak perlu ke mana-mana lagi. Mending langsung saja simak cerita sejarah Datu Pujung beserta ulasan seputar unsur intrinsik, pesan moral, dan fakta menariknya di bawah ini!Cerita Sejarah Datu Pujung Alkisah, pada zaman dahulu, ada sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan. Pemimpin dari kerajaan tersebut adalah Sultan Suriansyah yang terkenal ramah dan bijaksana. Pada masa kepemimpinannya, hiduplah seorang laki-laki tua yang tinggal sebatang kara. Orang-orang memanggilnya si Pujung. Terkadang, mereka juga memanggilnya Datu Pujung. Pria tua itu sangat bijak dan baik kepada warga sekitarnya. Ia juga menguasai banyak ilmu sehingga menjadi panutan bagi orang-orang di sekitarnya. Anehnya, tak ada satu pun orang yang tahu asal usul dari kakek tua ini. Pada suatu hari, Kerajaan Banjar kedatangan tamu asing. Para warga mendapati para tamu itu menaiki sebuah kapal berbendera asing yang sedang bergerak menuju pelabuhan Muara Sungai Barito, lebih tepatnya di Muara Kuin atau Delta Kuin. Karena para warga merasa asing, mereka pun berbondong-bondong menyongsong kedatangan kapal yang panjang dan besar itu. Mereka merasa keheranan, ditambah lagi, ada anak buah kapal yang unik. Rambutnya pirang seperti rambut jagung dan matanya biru seperti air laut. Ternyata, sifat para pelaut itu sangatlah angkuh. Mereka tampak mencurigakan. Dari kejauhan, para warga melihat para pelaut itu membawa senjata-senjata api. Baca juga Cerita Alana Si Putri Angsa dan Ratu Sihir Beserta Ulasan Menariknya, Kisah Perjuangan Melawan Kejahatan Ibu Tiri Sang Raja Panik Mengetahui gerak-gerik mencurigakan dari para pelaut asing, para warga pun bergegas melaporkan mereka ke Sultan Suriansyah, sang Penguasa Negeri. “Tuan, kami hendak melapor. Di Muara Kuin telah hadir para tamu asing yang sikapnya angkuh, Tuan. Bahkan, mereka membawa senjata api. Kami khawatir bila mereka akan melukai kami,” lapor salah satu warga. “Siapa mereka? Berani-beraninya membuat wargaku resah?” ucap Sultan geram. “Kami juga tidak tahu, Tuan. Mata mereka berwarna biru dan rambutnya pirang. Tubuh mereka tinggi dan kekar,” jawab warga itu. Mendengar cerita itu, Sultan Suriansyah segera mengumpulkan para hulubalang Kerajaan Banjar untuk mengadakan musyawarah. Mereka memikirkan rencana antisipasi serangan mendadak dari tamu asing itu. Karenanya, seluruh prajurit istana pun siaga di sekitar istana. “Aku punya firasat kalau kedatangan pelaut asing dengan kapal besar itu akan membawa bencana dan kehancuran di negeri tercinta kita ini. Sebelum hal itu terjadi, sebaiknya kita menyiapkan barikade di muara sungai sebelum mereka sampai di pelabuhan,” ucap Sultan Suriansyah dalam musyawarah itu. “Mohon ampun, Baginda. Muara sungai sangat dalam dan berarus deras. Tampaknya, kita hanya bisa membuat barikade dari pohon-pohon besar dan berbatang tinggi. Lalu, pohon itu kita tancapkan ke dasar sungai,” ucap salah satu hulubalang. Baginda Raja menerima saran tersebut. “Baiklah, kau boleh pakai cara itu. Bentuk dan bahannya terserah kalian. Cepat lakukan sekarang, sebelum para pelaut asing itu tiba di sini!” seru Sultan memberi perintah dan keputusan. “Tapi, mohon maaf, Tuan. Bukan maksud hamba tak ingin segera bertindak. Namun, mengingat waktunya sangat mendesak dan jumlah bala bantuan kita sangat terbatas, kita tak mungkin bisa menyelesaikannya dengan cepat,” ucap salah satu hulubalang. “Hmm, benar juga,” ucap Sultan berpikir. Mengadakan Sayembara Beberapa saat kemudian, ada seorang hulubalang yang mendapatkan ide. “Karena waktu kita tak banyak, bagaimana kalau kita buat sayembara saja? Barang siapa yang mampu meramu dan menancapkan batang kayu ke dasar sungai secara cepat, maka akan kita beri hadiah yang besar,” usulnya. “Aku setuju dengan usul tersebut,” ujar sang Pemimpin. “Tetapi, Baginda. Tampaknya hanya orang sakti yang bisa melakukan pekerjaan tersebut. Orang biasa seperti kita tak akan mungkin bisa meramu dan menancapkan batang kayu besar ke dasar sungai dengan cepat. Semua itu mustahil, Baginda,” ujar salah satu petugas pelabuhan. “Benar, Baginda. Tampaknya, tak ada warga di negeri ini yang memiliki kesaktian tersebut,” tambah hulubalang lain. Lalu, suasana mendadak hening sejenak. Seluruh hulubalang yang hadir dalam musyawarah hanya terdiam dan menunduk. Mereka tak tahu harus berbuat apa lagi. Tiba-tiba, suasana hening itu dipecahkan oleh seorang pria dari arah belakang. “Mohon maaf, Tuan dan Baginda. Hamba pikir, mengadakan sayembara adalah ide yang bagus,” ujar seorang pria yang mengenakan jubah. Sontak, semua pandangan tertuju kepadanya. “Memang bagus. tapi siapa yang bisa mengikuti sayembara itu? Tak ada satu pun orang yang bisa melakukannya dalam waktu singkat,” ujar salah satu hulubalang. “Benar sekali. Sudah pasti tak ada yang bisa melakukannya. Memangnya kau sanggup?” imbuh hulubalang yang lain dengan nada sedikit melecehkan. Para peserta musyawarah pun langsung menertawakannya. Kondisi tak enak itu langsung Sultan hentikan. “Hentikan! Biarkan pria ini menyelesaikan dulu ucapannya. Beraninya kalian memutus pembicaraan orang lain,” ujar Baginda Raja geram. “Maafkan kami, Tuan,” ucap para hulubalang. Pria Misterius “Terima kasih, Baginda. Hamba memang belum selesai bicara. Karena situasi yang terhimpit, tampaknya beberapa di antara kita tidak sabaran,” ucap pria berjubah yang misterius itu. Lalu, ia perlahan-lahan menjelaskan strateginya untuk menyelamatkan negeri. “Kalian semua benar, meramu kayu menjadi barikade itu bukanlah tugas yang mudah. Menancapkannya ke dasar sungai juga bukan tugas yang cepat tuk dilakukan. Semua itu memerlukan waktu yang cukup lama. Musuh kita dalam kapal layar besar itu akan cepat mengetahui jika kita sedang membuat barikade. Alhasil, mereka akan menyerang kita sebelum barikade selesai,” ucap pria itu. “Lantas, apa yang sebaiknya kita perbuat? Kau punya ide?” ucap Sultan. “Jika dipercaya. Izinkan hamba mengerjakannya menurut kemampuan dan cara hamba. Hamba bisa menjami kapal asing itu akan kandang di Muara Sungai Barito,” ucapnya. Seluruh hulubalang tertawa dengan kencang. Mereka meragukan kemampuan pria tua itu. “Hahahaha, kamu itu sudah tua renta. Mana bisa kau menyelamatkan negeri ini! Kalau ngomong tolong yang masusk akal,” ucap salah satu hulubalang meledek. Sultan Suriansyah lalu memukul mejanya dengan palu. “Kalau kalian tak bisa berkata baik, tolong diam saja. Biarkan bapak ini menyelesaikan perkataannya,” ucap sang Raja kesal dengan sikap para hulubalang. “Jadi, cara apa yang akan kau perbuat untuk menyelamatkan negeri ini? Aku akan perintahkan para prajurit tuk membantumu,” imbuh sang Pemimpin. Datu Pujung Meminta Kepercayaan Sang Raja “Tak perlu, Tuan. Hamba bisa menyelesaikannya sendiri. Namun, Hamba mohon agar Baginda memberikan kepercayaannya kepada saya. Tugas ini juga saya lakukan bukan karena hadiah. Tapi, demi keselamatan negeri kita,” ucap pria itu. “Hamba akan mulai menyelematkan negeri ini sekarang juga. Hamba pamit undur diri,” ucap pria itu seraya meninggalkan musyawarah. Semua orang yang ada di tempat itu pun tercengang. “Siapa gerangan pria itu?” tanya Sultan Suriansyah kepada para hulubalang. “Hamba tak tahu, Tuhan. Beliau menutupi wajahnya dengan kerudung. Hamba tak bisa menyaksikannya,” ucap salah satu hulubalang. “Lantas, apakah kita bisa mempercayainya, Tuan?” tanya salah seorang peserta. “Kita bisa mempercayainya, Tuan. Orang misterius tadi adalah Datu Pujung. Saya tadi sempat melihat wajahnya karena saya duduk bersebelahan dengannya,” jawab salah satu hulubalang. “Siapakah gerangan Datu Pujung?” ucap Baginda Raja. “Di kalangan kami para warga, Datu Pujung adalah orang tua yang kami segani. Ia punya banyak ilmu dan sangat baik serta bijak,” jawab orang itu. Kemudian, Baginda Raja memutuskan tuk mempercayai Datu Pujung. “Baiklah, kalau begitu, kita tunggu kesaktian pria itu hingga malam ini. Semoga saja ia dapat kita andalkan,” ucap sang Raja. Kesakitan Datu Pujung Malam pun semakin gelap. Di istana, Baginda Raja dan para hulubalang bersiaga dengan senjata, barangkali Datu Pujung butuh bantuan. Sementara itu, di kapal besar, para pelaut asing sedang mondar mandir sambil menenteng senjata. Langkah mereka tiba-tiba terhenti. Mereka merasa kapal sedang miring ke kanan. Belum sempat berkata apa-apa, mereka sudah terjatuh ke sungai. Tak lama kemudian, kapal miring ke kiri sehingga para penjaga di sayap kiri juga terjatuh. Merasa ada yang aneh, kapten kapal pun membunyikan tanda bahaya. Anak buah kapal yang semula di alam kapal pun keluar dengan senjata lengkap. Di atas perahu, mereka melihat seorang berjubah putih di atas geladak. Karena tak mengenali sosok tersebut, para anak buah kapal pun mengepungnya. Orang berjubah putih itu melarikan diri. Para prajurit kapal berteriak, “Jangan sampai orang itu lolos! Tangkap dia hidup-hidup!” Hingga akhirnya, pria berjubah putih tersudut di haluan kapal. Para prajurit asing itu berhasil mengepungnya. Karena tak bisa lari lagi, orang berjubah putih itu pun menghentakkan kakinya ke kapal berulang kali. Kapal itu berderak pecah. Orang berjubah putih melompat ke sungai. Hanya dengan satu lompatan saja, ia sudah berada jauh dari kapal. Para prajurit asing tercengang. Mereka lalu menembak orang berkerudung putih itu. Keheningan malam pun pecah oleh suara-suara tembakan yang menggema. Tampaknya tembakan mereka berhasil mengenai pria misterius itu. Mereka terdiam sejenak sambil melihat apakah orang itu benar-benar sudah mati atau belum. Dalam keheningan, ada suara gelak tawa memecahkan suasana. “Hahaha, yang kalian tembak itu hanya bajuku,” terdengar tawa dan suara lantang dari sudut kapal. Karena sangat gelap, semua mata prajurit kapal pun fokus ke arah sumber suara. Suara itu semakin kencang, “Kalian tidak bisa melihatku, ya? Hahaha. Coba tembak aku kalau berani!” Merasa dilecehkan, para prajurit menembak ke arah sumber suara tanpa tahu apa yang mereka tembak. Ternyata, mereka saling menembak kawan sendiri. Berhasil Mengecoh Lawan Tak lama kemudian, suara itu kembali terdengar, “Mata kalian kurang jeli! Kalian tak bisa melihatku, kan? Hahaha.” Para prajurit merasa sumber suara berasa dari arah kemudi kapal. Tanpa basa-basi, mereka langsung menembak arah kemudi kapal. Sudah puas mempermainkan para prajurit, pria berjubah putih itu melayang ke udara dan meluncur ke atas kapal. Sekali hentakan, kapal itu langsung terbelah menjadi dua. Anak buah kapal dan seluruh isi kapal tenggelam ke dasar Sungai Barito. Itu berarti, Kerajaan Banjar berhasil ia selamatkan. Seluruh penduduk merasa lega dan bahagia Pria berjubah putih yang ternyata Datu Pujung itu mendapatkan hadiah dari Sultan Suriansyah. “Karena kau telah berhasil menyelamatkan Negeri ini. Aku akan memberimu hadiah sesuai yang telah aku janjikan,” ucap Baginda Raja. “Aku akan memberimu jabatan di istana, emas berlian, dan makanan lezat. Bila masih kurang, aku akan memberi apa pun yang kamu mau,” imbuhnya. “Hadiah berupa pangkat hamba terima dengan senang hati. Saya berterima kasih akan hal itu. Namun, saat ini, izinkan hamba mengembalikan seluruh hadiah tersebut. Hamba tak pantas mendapatkan jabatan,” ujar Datu Pujung menepati janjinya. “Hmm, kalau begitu, apa yang kau pinta Datu? Beritahu aku. Akan aku kabulkan apa pun permintaanmu. Atau, bawalah makanan-makanan ini bersamamu. Jika kurang, akan kue\beri tambahan,” ucap Sultan Suriansyah. “Hamba tak pernah kekurangan makanan, karena bumi ini sangat luas dan setiap jengkal tanahnya menjadi rezeki bagi siapa pun yang mau berusaha. Barangkali di luar sana ada yang membuthkan makanan, ke sanalah sebaiknya hadiah ini Tuanku berikan,” ucapnya bijak. “Aku hanya meminta selembar baju sebagai penutup aurat. Berkenankah Baginda memberi hamba selembar baju?” ucap Datu Pujung. “Tentu saja, aku akan memberi apa yang kamu mau. Sungguh mulia benar hatimu,” puji Sultan Suriansyah. Baca juga Dongeng Si Janda dan Ketela Pohon Beserta Ulasan Menariknya, Kisah Persahabatan antara Manusia dan Tumbuhan Unsur Intrinsik Usai membaca cerita sejarah Datu Pujung di atas, apakah kamu jadi penasaran dengan unsur intrinsiknya? Kalau iya, tak perlu berlama-lama lagi, langsung saja simak ulasan singkatnya berikut ini; 1. Tema Inti cerita atau tema dari cerita sejarah Datu Pujung adalah tentang kesaktian seorang pria yang berhasil menyelamatkan sebuah negeri. Di tengah hiruk pikuk para hulubalang, ia berhasil mengalahkan para pelaut asing seorang diri. 2. Tokoh dan Perwatakan Tokoh utama dalam cerita sejarah ini adalah Datu Pujung dan Sultan Suriansyah. Datu Pujung digambarkan sebagai pria tua yang bijak dan disegani karena memiliki banyak ilmu. Namun, ia adalah pria misterius yang tak orang ketahui asal-usulnya. Sementara Sultan Suriansyah adalah pemimpin dari Kerajaan Banjar yang juga dikenal bijak dan ramah. Selain tokoh utama, legenda Datu Pujung juga memiliki beberapa tokoh pendukung. Mereka adalah para hulubalang istana yang turu mewarnai cerita. Tokoh antagonis dalam cerita ini adalah para pelaut asing yang hendak melakukan penyerangan di Kerajaan Banjar. Untung saja, Datu Pujung berhasil mengalahkan mereka. 3. Latar Cerita rakyat ini menggunakan beberapa latar tempat yang berada di Kalimantan Selatan. Tempat-tempatnya adalah Kerajaan Banjar, Muara Sungai Barito, dan kapal milik pelaut asing. 4. Alur Cerita Sejarah Datu Pujung Alur cerita cerita sejarah Datu Pujung adalah maju atau progresif. Cerita bermula dari beberapa warga di negeri Banjar yang mendapati ada kapal besar yang dikendarai oleh pelaut asing yang mengarah ke pelabuhan Muara Barito. Karena para pelaut itu menenteng senjata dan berlagak angkuh, mereka pun melaporkannya ke Sultan Suriansyah. Dengan sigap, Sultan Suriansyah mengumpulkan para hulubalang untuk membicarakan soal kedatangan pelaut asing itu. Seorang hulubalang memberi saran menghalang para pelaut asing dengan barikade. Namun, Muara Barito terlalu dalam, sehingga membutuhkan pohon yang besar. Merancang barikade dengan pohon besar tentunya memakan waktu yang cukup lama. Hulubalang lainnya menyarankan sang Raja untuk membuka sayembara, bagi siapa saja yang bisa merancang barikade dengan cepat, maka ia akan mendapatkan hadiah besar. Sayangnya, saran tersebut ditolak oleh salah satu hulubalang. Alasannya, tak ada satu pun orang sakti di negeri ini yang bisa membuat barikade dengan pohon besar dengan cepat. Mereka lalu berpikir dengan keras. Di tengah keheningan, Datu Pujung yang mengenakan jubah putih tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya bisa mengalahkan para pelaut asing itu. Ia hanya meminta sang Raja percaya kepadanya. Karena tak ada pilihan lain, sang Raja pun mempercayai Datu Pujung. Dengan kesaktiannya, ia berhasil mengecoh dan mengalahkan para pelaut asing dengan tangan kosong. Hebatnya lagi, ia tak meminta hadiah apa pun dari sang Raja. 5. Pesan Moral Dari cerita sejarah Datu Pujung ini ada beberapa pesan moral yang bisa kamu petik. Sultan Suriansyah mengajarkan untuk menjadi pemimpin yang bijak dan bersikap baik. Lalu, si Pujung alias Datu sakti dari Kalimantan ini mengajarkan kita untuk membantu tanpa pamrih. Demi keselamatan Kerajaan Banjar beserta masyarakatnya, ia menunjukkan kesaktiannya dan berhasil mengalahkan para pelaut asing yang hendak menyerang. Meski sangat berjasa, ia sama sekali tak meminta imbalan pada sang Raja. Ia ikhlas membantu negeri tersebut. Baginya, rezeki akan datang dengan sendirinya. Ia bahkan meminta sang Raja untuk memberikan imbalannya kepada warga yang membutuhkan. Selain unsur instrinsik, cerita sejarah Datu Pujung ini juga memiliki unsur ekstrinsik. Di antara unsur ekstrinsiknya adalah nilai ketuhanan, sosial, budaya, dan moral dari lingkungan di sekitar. Baca juga Cerita Dongeng Bunga Paling Berharga Beserta Ulasan Menariknya, Kisah tentang Keyakinan dan Kesabaran dalam Mendapatkan yang Diinginkan Fakta Menarik Sebelum mengakhiri artikel yang memaparkan kisah legenda Indonesia ini, kamu wajib banget membaca fakta menariknya. Apa sajakah itu? Berikut ulasannya; 1. Cerita Rakyat Datu Pujung Menjadi Sejarah Asal-Usul Pulau Kaget Kamu pernah mendengar tentang Pulau Kaget? Pulau tersebut berada di Kecamatan Tabunganen, Barito Kuala, Kalimatan Selatan. Konon, Pulau Kaget terbentuk dari potongan-potongan kapal yang dihancurkan Datu Pujung. Potongan-potongan kapal itu cukup besar dan tertimbun lumpur sehingga menjadi endapan. Para warga lalu menyebutnya Pulau Kaget. Pulau itu terkenal akan keindahannya. Selain itu, Pulau Kaget juga telah diresmikan oleh pemerintah sebagai cagar alam. Pulau tersebut menjadi tempat tinggal bagi para bekantan yang merupakan maskot fauna dari provinsi Kalimantan Selatan. Bekantan adalah jenis monyet berhidung panjang. Konon, bekantan merupakan para pelaut asing yang dikutuk oleh Datu Pujung menjadi monyet. Karena itulah bekantan memiliki hidung yang panjang. 2. Ada Versi Lain Pada umumnya, cerita rakyat atau legenda memang memiliki beberapa versi. Begitu pun dengan cerita sejarah Datu Pujung ini. Secara garis besar, semua versi memiliki kisah yang sama, yaitu ada pelaut asing yang menyerang negeri Banjar. Perbedaannya terletak di detail cerita. Ada satu versi yang menyebutkan bila Datu Pujung adalah pemimpin sebuah kerajaan di Muara Kuin yang terletak di Banjarmasin. Ia terkenal gagah perkasa dan pemberani. Pada suatu hari, ada kapal dari Inggris yang hendak menguasai kerajaan miliknya. Untuk menggagalkan rencana mereka, Datu Pujung mengeluarkan persyaratan bagi setiap pendatang yang ingin tinggal di negeri Banjar. Mereka harus membelah kayu besar tanpa alat apa pun. Datu Pujung tentu saja bisa membelahnya dengan mudah, karena ia memiliki kesaktian. Namun, para pelaut asal Inggris itu tak bisa memenuhi persyaratan. ] Meski begitu, mereka tetap nekat ingin menguasai negeri Banjar. Karena itu, Datu Pujung pun terpaksa mengeluarkan kesaktiannya. Ia menenggelamkan kapal beserta para penumpangnya dengan satu kali hentakan. Lalu, bangkai kapal dan potongan-potongan kayu itu menjelma menjadi sebuah pulau. Baca juga Legenda Angso Duo Asal Jambi dan Ulasan Lengkapnya, Kisah Perjalanan Rangkayo Hitam Mencari Wilayah Kekuasaan Baru Bagikan Cerita Sejarah Datu Pujung Pada Teman-Temanmu Demikianlah salah satu contoh cerita asal-usul Pulau Kaget yang merupakan sejarah dari Datu Pujung. Kisahnya sangat menarik dan sarat akan pesan moral, kan? Kalau kamu suka, segera bagikan kisahnya kepada teman-temanmu. Buat yang ingin membaca kisah lainnya, langsung saja kepoin kanal Ruang Pena. Ada beragam cerita Nusantara yang bisa kamu baca, seperti asal-usul nama Kota Makassar, legenda Minang Rambun, kisah Angso Duo, dan masih banyak lagi. Selamat membaca! PenulisRinta NarizaRinta Nariza, lulusan Universitas Kristen Satya Wacana jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, tapi kurang berbakat menjadi seorang guru. Baginya, menulis bukan sekadar hobi tapi upaya untuk melawan lupa. Penikmat film horor dan drama Asia, serta suka mengaitkan sifat orang dengan zodiaknya. EditorKhonita FitriSeorang penulis dan editor lulusan Universitas Diponegoro jurusan Bahasa Inggris. Passion terbesarnya adalah mempelajari berbagai bahasa asing. Selain bahasa, ambivert yang memiliki prinsip hidup "When there is a will, there's a way" untuk menikmati "hidangan" yang disuguhkan kehidupan ini juga menyukai musik instrumental, buku, genre thriller, dan misteri.
- Asal usul Nama Kampung Uka-Uka merupakan cerita rakyat Kalimantan Selatan. Cerita rakyat merupakan salah satu kekayaan Uka-Uka merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Pulau Laut Kepulauan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Namun saat ini, Kampung Uka-Uka lebih dikenal dengan nama Desa Oka-Oka. Berikut ini cerita rakyat asal usul nama Kampung Uka-Uka yang diambil dari buku Asal-Usul Nama Kampung Uka-Uka yang ditulis oleh Usul Nama Kampung Uka Uka Dahulu kala di sebuah kampung kecil yang terletak di pantai Pulau Laut, hidup sepasang suami istri. Sang suami bernama Ning Mundul yang biasa dipanggil Datu Ning Mundul, meskipun usianya terbilang muda. Ia dipanggil datu karena memiliki kemampuan yang luar biasa. Baca juga Dongeng Situ Bagendit, Cerita Rakyat dari Jawa Barat Pesan Moral dan Letak Ning Mundul seorang pekerja keras. Ia juga rajin menuntut ilmu, terutama ilmu agama. Istri Ning Mundul juga rajin, jika Ning Mundul pergi bekerja maka ia menyelesaikan tugas rumahnya, seperti memasak dan mencuci.
Indonesia memiliki banyak sekali cerita menarik. Salah satunya adalah dari Kalimantan Selatan. Buat kamu yang kurang familiar dengan cerita dari daerah ini, langsung simak saja artikel-artikel berikut, yuk!Pernahkah kamu mendengar tentang legenda Lok Naga? Atau, kamu tahu tidak bagaimana asal muasal Kota Banjarmasin? Wah, enggak tahu juga? Hmm…kayaknya kamu perlu membaca cerita rakyat dari Kalimantan Selatan ini, deh. Mungkin selama ini kamu kebanyakan mendengar cerita dari Pulau Jawa. Wajar, sih karena memang ceritanya banyak difilmkan. Nah, sekarang saatnya kamu memperluas wawasanmu tentang cerita-cerita dari daerah lain di Indonesia, salah satunya dari Pulau Kalimantan. Kalau penasaran apa saja kisah dari provinsi yang beribukota di Banjarmasin ini, kamu bisa menyimak PosKata. Karena di sini tak cuma cerita, kamu juga bisa menyimak unsur intrinsik, pesan moral, dan fakta menariknya juga, lho! Yuk, simak langsung aja ceritanya! Cerita rakyat Nusantara itu ada beragam, lho. Dari beberapa daerah punya kisah dan sejarahnya masing-masing. Di Kalimantan Selatan, ada cerita sejarah Datu Pujung. Kalau ingin membaca ...Buat yang suka cerita rakyat Nusantara, sudahkah kamu membaca legenda Telaga Alam Banyu Batuah? Bila belum, segeralah membaca kisah tersebut. Tak hanya memiliki cerita yang menarik, ...Sama seperti daerah-daerah lainnya, Kalimantan Selatan juga memiliki kisah yang seru untuk disimak. Salah satunya adalah cerita rakyat Pangeran Biawak ini. Penasaran seperti apa? Mending ...Mengetahui asal mula dari sebuah wilayah tak hanya akan menambah pengetahuanmu, tapi juga bisa menambahkan rasa cintamu pada daerah tersebut. Kalau kamu dari Banjarmasin, coba cek artikel ...Indonesia kaya akan cerita rakyat yang berasal dari berbagai daerah, salah satunya adalah legenda Lok Si Naga. Jika belum familier dengan kisahnya, barangkali kamu bisa menyimak ulasan ...Kalau di Jawa Tengah ada leganda Jaka Tarub, Kalimantan Selatan juga memiliki cerita rakyat yang mirip, yaitu Telaga Bidadari. Simak kisah beserta fakta menariknya di artikel ini, yuk!Salah satu cerita rakyat yang menarik dari Banjar di Kalimantan Selatan adalah tentang Putri Junjung Buih. Baca kisah lengkapnya di artikel ini dan dapatkan fakta menarik serta ulasan ...Cerita Rakyat Putri Junjung Buih Dahulu kala, hiduplah dua raja yang mengatur suatu negeri di Kalimantan Selatan. Mereka bernama Raja Patmaraga dan Sukmaraga. Walau hidup mereka rukun dan makmur, kehidupan mereka terasa kurang karena keduanya belum memiliki keturunan. Setelah lama berdoa, akhirnya Raja Sukmaraga dikaruniai anak laki-laki kembar yang tampan. Raja Patmaraga senang sekaligus sedih. Ia pun terus berusaha untuk mendapatkan keturunan. Sampai suatu hari terjadi hal yang tak dinyananya. Apakah itu? Baca selengkapnya Legenda Putri Junjung Buih dari Banjar, Kalimantan Selatan, Beserta Ulasannya Cerita Legenda Telaga Bidadari Dahulu kala hiduplah seorang pemuda tampan bernama Awang Sukma. Ketika tengah bermain seruling, mendadak dia mendengar tawa perempuan. Setelah diintip, ternyata ada para gadis cantik tengah mandi. Karena tergoda kecantikan salah satu gadis, Awang pun menyembunyikan salah satu selendang mereka. Akhirnya, salah satu bidadari tersebut tak bisa pulang ke kahyangan dan menikah dengannnya. Hidup mereka bahagia, sampai suatu saat istrinya menemukan selendang tersebut. Lantas apa yang terjadi dengan Awang Sukma dan keluarganya? Baca selengkapnya Cerita Rakyat Telaga Bidadari, “Jaka Tarub” dari Banjarmasin Beserta Ulasan Menariknya Legenda Lok Si Naga Dahulu kala, hiduplah sebuah keluarga bahagia yang terdiri dari ayah, ibu, dan 2 anaknya. Hidup mereka berubah setelah si ayah dan ibu tak sengaja memakan telur milik penjaga sungai. Mereka berdua pun berubah menjadi sepasang naga. Untuk dapat kembali ke wujud manusia, mereka harus melawan naga penjaga sungai. Mereka berpesan pada kedua anaknya mengamati aliran sungai untuk menegtahui apakah mereka masih hidup atau tidak. Bagaimana kelanjutan usaha kedua orang tua tersebut? Baca selengkapnya Cerita Legenda Lok Si Naga dan Ulasannya, Kisah Keberanian Orangtua untuk Anak Tercinta Asal-Usul Kota Banjarmasin Pada jaman dahulu kala, berdirilah suatu kerajaan bernama Kerajaan Daha yang dipimpin oleh Putri Kalungsu. Sedihnya, terjadi banyak pertikaian di kerajaan itu yang mengakibatkan matinya para pemimpin kerajaan. Pada saat kepemimpinan Pangeran Tumenggung. Banyak yang mengira bahwa Pangeran Tumenggung akan membunuh rivalnya, Pangeran Samudera. Karena itu, para patih lalu menyembunyikannya. Sayangnya, persembunyiannya terungkap. Bagaimana nasib Pangeran Samudera berikutnya? Baca selengkapnya Kisah Asal Mula Kota Banjarmasin dan Ulasannya, Bukti Ketulusan akan Mengalahkan Kebatilan Cerita Rakyat Pangeran Biawak Dahulu kala, hiduplah seorang raja dengan 7 putrinya yang kesemuanya masih lajang. Karena ingin semua putrinya segera menikah, raja pun mengadakan sayembara. Barangsiapa berhasil membangun istana, maka ia akan dinikahkan dengan putri-putri raja. Kemudian, datanglah 6 pemuda yang berhasil membangun istana, tapi tak ada yang bisa membuat bagian terpenting dari istana, yaitu jembatan. Saat tak ada yang bisa, datanglah seorang ibu dengan anaknya yang berniat ikut sayembara. Akhirnya, anak ibu tersebut berhasil membangun jembatan dan raja pun bersedia menikahkan putrinya dengan anak dari ibu tersebut. Masalahnya, anak dari ibu itu adalah seekor biawak. Lalu, apakah putri mau menikahi pemenang sayembara tersebut? Baca selengkapnya Legenda Pangeran Biawak Asal Kalimantan Selatan Beserta Ulasan Menariknya Legenda Telaga Alam Banyu Batuah Kisah ini menceritakan tentang seorang anak yang sakti lagi baik budi. Anak yang lahir di Suku Dayak Biauju ini bernama Halaban. Suatu hari, ia kedatangan seorang saudagar kaya yang ingin meminta tolong padanya. Anak saudagar kaya itu menderita sakit parah dan langka. Menurut mimpi sang saudagar, anaknya hanya bisa disembuhkan dengan air dari Pegunungan Bajuin. Karena tak semua orang bisa mengambilnya, maka ia meminta tolong pada Halaban. Masalahnya, untuk bisa mengambil air tersebut, Halaban harus menghadapi rintangan bertubi dan nyawanya pun dipertaruhkan untuk itu. Lalu, bagaimana reaksi Halaban? Apakah ia mau menggadaikan nyawanya demi sang saudagar? Baca selengkapnya Kisah Telaga Alam Banyu Batuah, Cerita Rakyat dari Kalimantan beserta Ulasannya Cerita Sejarah Datu Pujung Alkisah, berdirilah sebuah kerajaan besar di Kalimantan Selatan bernama Kerajaan Banjar. Kerajaan tersebut dipimpin oleh raja yang sangat terkenal, yaitu Sultan Suriansyah. Suatu hari, pelabuhan kerajaan tersebut didatangi oleh segerombolan orang asing yang berambut kuning dan bermata biru. Kira-kira, siapakah mereka? Apa tujuan mereka datang ke situ? Baca selengkapnya Legenda Datu Pujung dari Kalimantan Selatan Beserta Ulasan Lengkapnya, Kisah Kakek Sakti yang Berhasil Menyelamatkan Negeri EditorKhonita FitriSeorang penulis dan editor lulusan Universitas Diponegoro jurusan Bahasa Inggris. Passion terbesarnya adalah mempelajari berbagai bahasa asing. Selain bahasa, ambivert yang memiliki prinsip hidup "When there is a will, there's a way" untuk menikmati "hidangan" yang disuguhkan kehidupan ini juga menyukai musik instrumental, buku, genre thriller, dan misteri.
Berikut ini adalah cerita rakyat Kalimantan Selatan mengenai Putri Junjung Buih yang sangat terkenal Singkat yang cocok menemani anak-anak sebelum sebuah kerajaan bernama Amuntai, terdapat dua bersaudara yang memimpin, yaitu Patmaraga atau Raja Tua dan Sukmaraga atau Raja bekerja sama dengan baik dan mengelola kerajaan dengan mereka belum memiliki keturunan meskipun sudah melakukan berbagai cara dilakukan agar secepatnya diberikan tetapi, hasrat Sukmaraga untuk memperoleh anak rupanya lebih besar dibandingkan terus memohon kepada para dewa, agar diberikan putra dewa mengabulkan permohonan Sukmaraga dan memerintahkannya untuk melakukan tapa di suatu pulau, tak jauh dari kota Banjarmasin lama ia bertapa hingga datanglah mereka cepat diberi keturunan, si istri harus memakan burung titah tersebut cerita, sang permaisuri mengandung dan lahirlah sepasang bayi kembar yang sehat dan tersebut memacu semangat Patmaraga untuk memiliki suatu malam, ia para dewa mengabulkan permintaan Raja Tua dengan cara sedang melewati sungai, dilihatnya seorang bayi perempuan terapung-apung di sungai di atas gumpalan tersebut kemudian mendapat julukan Putri Junjung mengejutkan, ketika didekati, ternyata bayi tersebut mampu berbicara.“Maafkan saya, tidak bermaksud untuk saya kehilangan benda yang sangat berharga kau membantuku mencarinya?” ucap Putri Junjung Buih pada Raja Tua.“Mohon maaf, tidak tahu apa yang hilang dari yang bisa Tuan lakukan untuk membantu Putri?” jawab Raja Tua sambil tersenyum.“Terima kasih atas kebaikanmu, kehilangan selembar kain dan sehelai aku percaya kamu bisa menyelesaikannya dalam waktu setengah hari,” ucap Putri Junjung Buih.“Apa? Setengah hari? Itu mustahil! Tidak ada yang bisa menenun kain dan selimut dalam waktu setengah hari!” ucap Raja Tua dalam Tua memerintahkan agar syarat ini diumumkan dan siapa pun yang bisa memenuhinya akan diangkat menjadi pengasuh Putri Junjung Kuripan, seorang perempuan yang cakap dalam menenun dan memiliki kekuatan gaib, berhasil memenangkan sayembara waktu setengah hari, ia berhasil menenun kain dan selimut yang sangat Tua memenuhi janjinya dan mengangkat Ratu Kuripan sebagai pengasuh Putri Junjung Buih hingga perjalanannya sebagai pengasuh Putri Junjung Buih, Ratu Kuripan tidak hanya mengurus kepentingan sang juga mengajarkan ilmu sihir dan kemampuan khusus pada putri Putri Junjung Buih telah dewasa, ia menjadi sosok yang sangat bijaksana dan mampu memimpin kerajaan dengan baik, bahkan melebihi kehebatan sang ayah dan cerita singkat yang populer, cocok dibacakan untuk anak sebelum tidur berjudul cerita rakyat Kalimantan Selatan mengenai Putri Junjung Buih, lengkap dengan pesan cerita ini, kita dapat belajar untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan. Ketika kita memiliki keyakinan dan usaha yang keras, maka kita dapat mengatasi semua masalah yang dihadapi.
cerita rakyat kalimantan selatan singkat