Jakarta(ANTARA) - Suku Dinas (Sudin) Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jakarta Selatan menangkap hewan liar untuk mengantisipasi penyebaran penyakit cacar monyet menyusul keputusan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menetapkan penyakit itu sebagai darurat kesehatan global. Kepala Sudin KPKP Jakarta Selatan Hasudungan mengatakan Adasatu pelajaran yang didapat saat suku Badui didatangkan untuk membantu menangkap monyet di Gunung Kidul dan Kulon Progo. Dengan metode yang sama yaitu menebar jaring dan menghalau monyet supaya masuk ke jaring, ternyata hasil yang di dapat berbeda. Di Gunung Kidul monyet bisa lebih mudah di tangkap. Di Kulonprogo ternyata lebih sulit. Populasicukup banyak di alam dan tak dilindungi jadi alasan menangkap monyet ekor panjang. Praktik penangkapan di alam terjadi di Banyuwangi, Batu dan Madiun. Sedangkan dalam UU No 41/99 tentang Kehutanan pada Pasal 50 menyebutkan, setiap orang dilarang mengangkut tumbuh-tumbuhan dan satwa liar tanpa izin. VIVA- Seekor monyet liar dikabarkan telah menggigit anak-anak, dan ditangkap oleh petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Jakarta utara dari kebun warga di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis 27 Mei 2021.. Monyet yang tidak diketahui jelas asalnya dari mana tersebut terlihat oleh warga sudah ada beberapa hari memanjat pepohonan yang ada di dalam Komplek Vila Mas, Penjaringan. Wargasempat menangkap monyet tersebut seminggu lalu namun berhasil kabur. "Warga kembali melihat monyet sedang nongkrong di atas rel kereta api. Ketika hendak ditangkap monyet lari ke dalam masjid," katanya saat dikonfirmasi, Sabtu (2/10). Ia melanjutkan, warga bahu-membahu menangkap monyet di dalam masjid. Akhirnya, monyet bisa tertangkap. Merekacari pula pekerja yang menjual monyet itu, pun sudah lesap hilang entah ke mana. Akhirnya, barulah penduduk kampung sedar mereka sudah terbeli monyet liar yang tidak berguna dengan harga RM700 seekor dan tidak mampu menjualnya kepada sesiapa pun. Maka monyet pun tersengih mentertawakan 'kecerdikan' penduduk kampung itu. Kih kih kih Berikut5 hal tentang ular weling : 1.Ular Mematikan di Dunia. Ular weling terbilang sangat berbahaya. Bisa ular weling menduduki peringkat ke-3 paling mematikan di dunia. Urutan 1 diduduki oleh ular sendok (Naja sputatrix), ke-2 ular anang (Ophiophagus hannah), dan yang ke -3 Ular weling (Bungarus candidus). 2. 1 Miligram Bisa Sangat Mematikan. WPrK. Redaktur Muhsin Efri Yanto Gunadi, Polisi Hutan BKSDA DIY sedang menjelaskan cara penanganan monyet liar pada anggota komunitas relawan Baturraden Gamping Sleman, Rabu 22/12/2021. Foto Jatmika H Kusmargana YOGYAKARTA — Sejumlah wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti di sepanjang pesisir selatan pegunungan Sewu, Gunungkidul, kawasan pegunungan Menoreh Kulonprogo, hingga lereng Gunung Merapi Sleman berpotensi mengalami gangguan serangan monyet liar. Hal tersebut disampaikan Polisi Hutan BKSDA DIY, Gunadi di sela kegiatan pelatihan penanganan monyet liar di komunitas relawan Baturraden Gamping, Sleman, Rabu 22/12/2021. Tak hanya monyet liar di kawasan hutan, ancaman semacam ini dinilai juga bisa muncul dari monyet-monyet peliharaan yang terlepas di wilayah perkotaan atau pemukiman penduduk. Oleh sebab itulah, masyarakat dinilai penting untuk mengetahui cara penanganan monyet liar semacam ini. “Ada sejumlah faktor yang memicu koloni monyet bisa masuk kawasan pemukiman penduduk. Selain karena ada satwa peliharaan yang terlepas, biasanya hal semacam ini juga terjadi karena koloni monyet kekurangan makanan, sedang memasuki periode birahi, atau monyet yang terpisah dari kawanannya,” ungkapnya. Menurut Gunadi, ada dua metode yang bisa dilakukan untuk menangkap monyet. Yakni cara tanpa kekerasan, menggunakan kandang jebakan atau perangkap berisi makanan. Serta cara frontal dengan langsung menangkap monyet menggunakan alat jerat hingga jaring. “Jika memakai perangkap, bisa ditaruh makanan kesukaan monyet seperti pisang atau pepaya. Tinggal ditunggu saja 2-3 hari sampai monyet masuk ke dalam perangkap. Sementara untuk penangkapan frontal bisa dilakukan menggunakan jaring,” ungkapnya. Hal yang perlu diperhatikan saat menangkap langsung monyet ekor panjang menggunakan jaring adalah ancaman gigitan serta cakaran. Selain bisa melukai, gigitan monyet juga dapat menyebabkan timbulnya penyakit tertentu seperti rabies hingga flu monyet. SELANJUTNYA 1 2 Cara menangkap monyet dengan perangkap by ist Matius 1923-30 PENDUDUK Afrika mempunyai cara sederhana menangkap monyet. Mereka memasang botol dengan leher panjang dan sempit dan ditanam di dalam tanah. Di dalam botol itu ditaruh kacang kegemaran para monyet. Mereka memasang pada sore hari. Esoknya mereka menemukan monyet terjebak yang tangannya tidak bisa lepas dari botol itu. Kenapa? Ketika mencium aroma kacang, tangan monyet masuk ke leher botol yang sempit. Ia menemukan kacang dan menggenggamnya. Karena tangan menggenggam kacang. maka dia tidak bisa lepas dari botol itu dan terjebak “kethap-kethip” sepanjang malam. Ia ditangkap dan tidak selamat. Dalam bacaan Injil hari ini Yesus berkata, “Sungguh, sukar sekali bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor untuk masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Ini adalah gaya sastra peribahasa. Kita perlu mengerti konteks pemukiman atau kota pada zaman Yesus. Kota zaman dulu dikelilingi oleh benteng. Ingat di Kraton Yogya ada “Pojok Beteng Kulon” dan “Pojok Beteng Wetan”. Ini bentuk strategi perang untuk melindungi diri dari musuh. Selain ada gapura utama, benteng itu juga ada jalan kecil yang hanya bisa dilewati oleh satu orang, seekor unta atau keledai. Beban atau barang yang dibawa unta harus diturunkan dahulu supaya dia bisa masuk ke kota. Jalan kecil itu disebut “lubang jarum.” Unta akan mudah masuk lubang jarum, jika bawaannya dilepaskan. Sama seperti monyet yang tidak bisa mengeluarkan tangannya karena ia tidak mau melepaskan kacang yang ada dalam genggamannya. Begitu juga kita tidak akan selamat dan masuk ke dalam Kerajaan Surga kalau kita masih menggenggam dosa-dosa kita; kebencian, iri hati, dengki, sakit hati, kesombongan, “jahil methakil, dahwen panasten”, serakah, egois. Selain itu, kita juga diingatkan bahwa harta kekayaan itu tidak akan dibawa mati. Harta itu seumpama beban yang harus dilepaskan dari punggung unta agar bisa masuk ke dalam kota. Kekayaan juga harus ditinggal supaya kita masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bukan harta melimpah, tetapi kebaikanlah yang kita bawa masuk ke hidup abadi. Semakin harta banyak semakin sulit masuk ke lubang jarum. Menyeberang di ke Stasiun pintu surga dibuka untukmu. Cawas, tak jadi ke barat…

cara menangkap monyet liar